Blog

Home: Sekapur Sirih oleh Dee Lestari

moccaweb-home

Jamuan Teh di Rumah Mocca

Benarkah bertambahnya jarak dan usia membuat sesuatu menjadi lebih baik? Mungkin tidak untuk semua. Tapi, sepertinya hal itu berlaku bagi Mocca. Sebagai salah satu saksi yang mengikuti perkembangan mereka dari band kampus pra-rekaman hingga akhirnya mereka tiba di pencapaian mereka hari ini, menjadi salah satu band indie Indonesia yang berhasil mendunia, saya bahagia Mocca mendewasa layaknya anggur yang kian berkualitas oleh peraman usia. Hijrahnya Arina ke Amerika tak pelak menjadi titik kritis yang menjadi penentu karier Mocca sebagai sebuah grup. Tapi, ternyata itu tidak membuat mereka susut berkarya. Dengan jarak dan jeda yang melimpah, dibantu oleh teknologi yang memungkinkan mereka rekaman jarak jauh, Mocca malah berkesempatan untuk menyiapkan materi terbaik untuk album terbaru mereka: Home.

Ketika semua anggota Mocca kini sudah berkeluarga, makna Home mengalami pendalaman dengan sendirinya. Lebih luas lagi, dalam album ini, mereka mengusung kota kelahiran band mereka, Bandung (lewat lagu Flower City). Dan, jika kita jeli mendengar tema-tema keseharian yang diangkat Mocca, selalu ada cita rasa realitas Bandung menjadi benang merah halus yang merajut lagu-lagu mereka, seberapa pun “internasional” kualitas produk akhirnya. Seperti judulnya, Home bagaikan penegasan identitas, akar dan asal muasal Mocca yang sesungguhnya berangkat dari lokalitas yang kuat.

Riko, yang semakin matang dalam penulisan lagu, diimbangi oleh vokal Arina yang juga mendewasa tanpa kehilangan ciri khasnya. Ada depth dan nuansa mellow dalam album Home yang belum terasa di album-album sebelumnya. Sound yang dipilih Mocca secara keseluruhan pun terasa lebih berani, kaya, dan bervariasi. Sumbangan lagu dari Indra dan Toma juga memperkuat karakter album ini. Intinya, Mocca hadir lebih percaya diri.

Jika Anda punya kesempatan mengenal band ini lebih dekat, mengamati interaksi mereka satu sama lain; antar anggota, para additional player, dan kru, saya yakin Anda akan tiba pada kesimpulan yang sama. Mereka seperti keluarga besar yang bergerak bersama. Hangat, kompak, kocak, dan… homey. Demikian pula impresi saya terhadap album Home ini. Saya seperti diajak bertandang ke rumah mereka lalu diperlihatkan koleksi foto pertumbuhan mereka yang dipajang berjajar dalam pigura sambil dijamu teh dan kue buatan Arina. It feels like home sweet home.

Saya membayangkan, di ujung kunjungan itu, kami akan bersulang dan saya akan menyatakan harapan saya agar Mocca terus berfermentasi kian matang dan nyaman. Tak usah terburu-buru. Tak usah menggebu. Santai, seperti berselonjor di teras rumah sendiri. Namun, kuat berakar dan membumi. Demikianlah ciri-ciri kreativitas yang mendewasa. Dan, Mocca telah menunjukkannya.

Dee Lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.