Blog

Indrakustik Berawal Dari Kelas Mocca

Indrakustik-650

Bagi sebuah band, proses penciptaan karya didasari oleh kekuatan untuk memberikan inspirasi bagi banyak orang. Pada akhirnya karya tersebut akan melahirkan sebuah spirit baru dalam membangun sebuah ranah musik tertentu, baik dalam hal abstrak mencakup wacana sebuah pemikiran yang direfleksikan ke dalam tema karya, eksplorasi musikalitas dan performa serta spirit membangun komunitas baru.

Mocca mempunyai fansbase yang cukup besar, loyal dan terorganisir dengan baik. Fansbase Mocca tersebut menakmakan dirinya dengan sebutan Swinging Friends. Sejak tahun 2014 Swinging Friends mampu berkembang dengan membuat sebuah wahana baru khusus bagi mereka penggemar Mocca dengan mengadakan Kelas Mocca. Sebuah kegiatan bermusik yang memainkan lagu-lagu Mocca. Berawal dari kelas Mocca inilah muncul talenta-talenta baru yang membuat Mocca merasa terpukau.

Salah satunya adalah Indra Kusumah seorang gitaris yang membawakan rasa nostalgik, indah, dan sendu menjadi satu. Unspoken, lewat petikan jari nya, Indra bercerita banyak dan menginterprestasikan lagu Mocca dengan caranya sendiri. Lalu Mocca dan Indra bersepakat untuk kerjasama membuat sebuah project yang dinamakan Indrakustik. Indrakustik adalah langkah awal Mocca untuk mewariskan karya-karyanya kepada generasi selanjutnya. Bulan Mei 2016 Indrakustik sudah merilis album dengan tema “Indrakustik Plays Mocca”. yang dirilis oleh Lucky Me Music dan Beatballs Records dari Korea Selatan.

Simak wawancara menarik yang dilakukan media Mocca bersama Indra Kusumah tentang project Indrakustik ini.

 

  1. Siapa Indra Kusumah itu?

Indra kusumah seorang gitaris kelahiran Purwakarta tanggal 16 April 1987, Saya belajar musik ketika masih di sekolah dasar di bawah bimbingan ayahandanya Toni Budiarsa seorang tokoh musisi senior di Purwakrta. Menginjak  SMP saya mulai membentuk sebuah grup band bersama teman-temannya hingga SMA. Perlahan tapi pasti pengalaman bermusik saya terukir dengan menjuarai kompetisi-kompestisi band di daerah-daerah hingga kompetisi musik berskala nasional & meraih gelar gitaris terbaik dari kompetisi band yg saya ikuti. Selepas masa SMA di tahun 2005 saya melanjutkan studi di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung) dengan mengambil jurusan Pendidikan Seni Musik dan lulus pada tahun 2011. Saya juga tergabung dalam sebuah kelompok musik bernama BIO (Bandung Inikami Orcheska) dari tahun 2009 hingga sekarang, dengan mengusung genre musik “New Wave Ska” BIO juga telah menelurkan sebuah album EP (mini album) yang berjudul Get Ska di tahun 2011 dan debut album BIO yang berjudul “Alegori” yang rilis di bulan April 2016 lalu

  1. Awal mula bisa menjadi Indrakustik?

Jauh sebelum menjadi Indrakustik, awalnya di tahun 2014 saya diajak seorang teman (Hilmi Abdul Halim) yang juga seorang wartawan koran Pikiran Rakyat untuk bergabung dalam sebuah komunitas fanbase dari grup music Mocca yang bernama Kelas Mocca, disitu saya dijadikan mentor/coach musik yang melatih teman-teman Kelas Mocca untuk mempelajari & memainkan lagu-lagu Mocca, Singkat cerita setelah beberapa kali mengadakan pertemuan Kelas Mocca dibulan november 2014 teman-teman Kelas Mocca menyelenggarakan acara musik yang bernama Lucky Friday Night dan saya pun diminta Hilmi & teman-teman Kelas Mocca untuk tampil solo gitar di acara tersebut dengan membawakan lagu-lagu Mocca dalam bentuk instrumental gitar, Selepas bermain gitaris dari band Mocca ‘Riko’ mengapresiasi penampilan saya di acara tersebut lalu mengajak saya untuk bekerjasama & berkolaborasi di setiap penampilan mereka, dari mulai launching album Home Mocca hingga event musik bertaraf internasional Java Jazz, dari situ saya juga sering dilibatkan (berkolaborasi) dalam event-event musik di berbagai kota di Indonesia. Hingga pada akhirnya tercetuslah ide & niat mulia dari ‘Mas Riko Mocca’ untuk membantu saya membuatkan project album solo gitar, dimana album solo gitar ini berisikan 10 lagu Mocca yg diaransemen ulang menjadi lagu-lagu instrumental gitar, di bawah tangan dingin musisi muda berbakat Tesla Manaf sebagai produser music, akhirnya project album solo gitar saya ini rampung di bulan April 2016 lalu dan diberi nama “Indrakustik Plays Mocca”.

  1. Kenapa cover Mocca? Lalu apa perbedaannya dengan Mocca sendiri, kan seperti vocal pun tetap diisi oleh Arina?

karena ini memang project lain dari band Mocca & kebetulan saya juga punya history sendiri dengan band Mocca, Dimana ketika SMP-SMA saya juga sangat menggemari band Mocca bahkan ketika itu dibeberapa kesempatan event musik saya juga sering membawakan lagu-lagu Mocca, Project ini benar-benar ‘bak gayung bersambut’ ‘pucuk dicinta ulam pun tiba’. [tertawa]

Lagu-lagu di album Indrakustik ini berbeda dengan karena sang produser Tesla Manaf mencoba men-twist lagu-lagu Mocca menjadi berbagai macam genre sehingga ketika didengarkan lagu-lagu di album Indrakustik ini terdengar multi genre, dinamis, harmonis & manis dan tentu saja berbeda karena album ini adalah album instrumental gitar walaupun ada satu materi lagu berjudul ‘Stars In Your Eyes’ dimana ‘Arina Mocca’ turut menyumbangkan suara emasnya tetapi tetap lagu ini hanya diiringi gitar sehingga terdengar lebih mendayu-dayu berbeda dengan lagu aslinya yang full instrumen musik

  1. Selepas merilis album, sekarang sedang mengerjakan apa Indrakustik ini?

Kalau saya pribadi sih punya aktifitas lain yaitu mengajar di salah satu SMA di Bandung, Kalau kesibukan yang berkaitan dengan Indrakustik paling promo-promo di berbagai media & juga perform di berbagai event.

  1. Lalu perihal lagu-lagu Mocca yang direkonstruksi ulang versi Indrakustik. Kenapa memilih lagu-lagu tersebut, kan masih banyak lagu-lagu Mocca yang terbilang bisa menjual?

Pertama memang lagu-lagu yang dipilih adalah lagu-lagu yg saya sukai, Kedua karena alasan teknis permainan & penjarian karena tidak semua lagu-lagu Mocca mudah dimainkan dalam bentuk solo gitar

  1. Yakin akan terlepas dari bayang-bayang Mocca? Atau Indra berharap tetap ada di bayangan nama besar Mocca?

Justru saya berharap ini sebagai batu lompatan untuk akhirnya nanti saya bisa menggarap album solo gitar dengan memainkan karya-karya sendiri, Soal image mah saya ga masalah orang mau nilai seperti apa mau dikaitkan/ngga dengan Mocca & yang ada malah happy-happy aja disandingkan dengan band besar sekelas Mocca, Jadi orang itu mau nilai saya seperti apa ga terlalu saya hiraukan, karena yg paling penting buat saya adalah berkarya.

  1. Seserius apakah Indra menggarap Indrakustik ini? Indra kan tidak hanya bermain untuk Indrakustik, tapi juga beberapa band lain yang dimana posisi Indra adalah player tetap. Lalu identitas music dari Indra ini seperti apa? Tidak takut dicap sebagai gitaris session player?

Ya tentu serius kalau ga serius tentu album ‘indrakustik plays Mocca’ ini ga akan pernah terwujud. Identitas musik saya adalah apapun musiknya selama enak terdengarnya di telinga saya ya saya suka, kalau saya sih prinsipnya main musik itu silaturahmi, saya tidak akan membatasi kemampuan saya dan diri saya, selama saya mampu bisa dan sanggup siapapun yang mengajak saya ya saya akan sangat dengan senang hati ikut

  1. Kenapa orang-orang mesti mendengarkan Indrakustik?

Karena materi lagu di album “Indrakustik Plays Mocca” ini berbeda dengan lagu asli Mocca, di dalamnya penuh kejutan karena lagu-lagu Mocca yg ada di twist 180 derajat,sehingga terdengar seperti multi genre.

[anggabadilz]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.