Blog,  FriendsClub

Lucky Friday Night’s Talent: Indra Kusumah

Selama ini, jati diri Indra Kusumah terlanjur melekat dengan jenis musik bernuansa ceria terkadang seperti hura-hura. Itu karena ia kerap tampil sebagai seorang gitaris di grup musik dengan format fullband yang meriah dengan komposisi musik yang relatif penuh.

Cowok yang akrab dipanggil Endrow itu mulai dikenal di kalangan para pecinta panggung musik indie tanah air setelah tergabung dalam grup musik beraliran britpop, Twisterella. Di samping itu, ia juga kini tergabung dalam grup Bandung Inikami Orcheska yang mengusung genre musik ska modern dengan sekelumit permainan gitar menggunakan efek-efek tertentu.

PROYEK SOLO INDRA KUSUMAH

Permainan gitarnya yang cukup skillful di atas panggung konser festival banyak didukung aksi panggung yang energik dan interaktif dengan penonton. Aksi panggungnya yang ekspresif membuat Endrow terkesan sangat bersifat periang di atas atau pun di belakang panggung.

Padahal, di belakang layar, di ruang persembunyiannya, cowok kelahiran Purwakarta, 16 April 1987 silam itu banyak mencurahkan isi hatinya melalui gitar akustik miliknya. Suasana ruang privasi justru membebaskannya dari kesan yang ia dapatkan di panggung-panggung besar dengan sorakan penonton yang meriah.

Gitar seolah menjadi tambatan hatinya, karena memang saat ini ia belum menemukan sosok belahan hati yang ia inginkan. Dalam kesendiriannya, lulusan seni musik di Universitas Pendidikan Indonesia itu sempat mempertanyakan satu hal, “Kalau teknisi pusing dengan pekerjaannya, pelariannya bisa ke musik. Tapi kalau musisi sedang pusing dengan musik, pelariannya kemana?”.

Seiring berjalannya waktu, pengajar seni di SMAN 15 Bandung itu akhirnya bisa menjawab sendiri kegelisahannya. Jawabannya ternyata ada pada gitar kesayangannya. Lewat gitarnya, Endrow ternyata bisa mencurahkan isi hati mengenai kehidupannya sehari-hari. Di saat sendiri, ia memainkan gitar membawakan lagu-lagu milik musisi atau band yang dirasa cocok dengan apa yang ia rasakan saat itu.

Permainan gitar instrumentalnya yang bergaya finger style menciptakan nuansa yang lebih mendalam pada lagu apa pun yang ia bawakan. Mulai dari lagu sendu hingga lagu yang menjadi soundtrack iklan obat-obatan di TV, bisa ia jadikan alunan musik yang lebih emosional, penuh ekspresi.

Umumnya, aransemenan suatu lagu dalam format fullband itu akan menjadi lebih sulit bila dibawakan secara akustik. Seorang musisi atau gitaris terkadang banyak memainkan skill yang lebih tinggi atau mengubah irama lagu secara drastis untuk membuat versi akustik lagu tersebut minimalnya menandingi versi fullband-nya.

Tapi ternyata, Endrow bisa merubah pandangan tersebut. Bagi penggemar musisi Bill Frisell dan Dewa Budjana itu, aransemenan lagu dalam versi akustik tidak perlu banyak merubah versi aslinya. Di sini lah kapasitasnya sebagai seorang musisi yang andal, sangat diuji. Endrow berani membawakan versi asli dari lagu-lagu yang cukup populer di kalangan masyarakat, dalam format gitar akustik yang sederhana.

Dalam setiap bunyi itu ada keindahan. Tapi kadang, hal itu tidak kita sadari. “Pada lagu-lagu yang menurut orang itu biasa-biasa saja, akan terasa berbeda jika dibawakan dengan penghayatan dan yang paling utama, harmonisasi yang tepat,” kata cowok yang hobi berwisata kuliner itu. Tak heran, proyek solonya akan sangat berbeda dari kebanyakan musik yang ia usung bersama bandnya.

One Comment

Leave a Reply to trisna29senja Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.