Blog

Mocca Last Show: Annabele & The Music Box

From: uncluster.com

“Seperti punya rumah terus digusur.” Begitulah deskripsi perasaan penggemar Mocca yang diiringi derai air mata. Satu persatu mereka maju menyalami Arina Ephipania. Vokalis Mocca ini menjadi pemicu konser perpisahan. Arina akan segera menikah. Sang calon suami akan memboyongnya ke Long Beach, California, Amerika Serikat.

Arina tidak menyangka band yang dimulai dari kamar kos ini bisa ditonton sekitar 2000 orang. Konser perpisahan ini dinyatakan sold out. Penjualan tiketnya sempat menghebohkan. Tiket yang dilepas dengan cepat habis. Mocca pun merilis tiket tambahan. Venue pun berpindah ke tempat yang lebih besar. Dari Balai Kartini ke Hall A Basket.

Para penggemar Mocca, Swinging Friends berdatangan dari luar kota hingga luar negeri. Dari Jogjakarta hingga Singapura. Mereka setia menunggu hingga pintu venue terbuka. Antrean mengular sepanjang ticket box hingga pintu masuk.

Penantian lama itu disambut oleh duo MC kocak, Soleh Solihun dan Ringgo Agus. Mereka bertugas sebagai storyteller yang menjalin cerita kabaret yang dimainkan SMA 7 Bandung. Annabelle and the Music Box menggabungkan kisah fantasi dengan lagu-lagu Mocca. Walau tidak semua terhubung dengan baik.

Mocca membuka dengan Dream. Annabelle dikisahkan menemukan kotak musik dan tersedot ke dalam alam ajaib Swinging Land.

Happy, This Conversation, I Think I’m In Love mengisahkan perkenalan cinta Annabelle. Secret Admirer, Me and My Boyfriend, The Best Thing melukiskan masa bahagia. Bintang tamu Sore disambut meriah.

Babak kedua diselingi tawa dari lelucon segar duo MC yang sesekali curhat colongan hingga membongkar kisah cinta Arina. Listen to Me, The Object of My Affection, dan Let Me Go memasuki masa konflik cinta Annabelle dengan perompak.

Kolaborasi dengan Float mengubah nuansa lagu menjadi menegangkan. Sementara Endah n Rhesa pandai menggubah rasa romantis. Kematian kekasih Annabelle pun makin sendu ketika salju turun dan Mocca membawakan Hyperballad milik Bjork.

Sesi dua ditandai dengan I Would Never. White Shoes and the Couples Company membawakan lagu-lagu Mocca. Bahkan, Arina mundur sebentar digantikan Sari pada lagu What If. Arina bercerita bahwa band mereka sering dibandingkan dengan WSatCC. Arina pun membawakan Senandung Maaf.

I Remember seharusnya menjadi lagu penutup saja. Suasana haru menyeruak. Do What You Want to Do dan Swing It Bob mengembalikan keceriaan. Arina mengajak penonton menjadi penyanyi pengiring. Itulah salah satu hal yang akan dirindukan Arina, penonton yang menyanyi bersamanya.

Arina pun mengisahkan keberuntungan perjalanan musikalnya. Bisa menjadikan musik sebagai penghidupannya hingga bepergian ke luar negri. Lucky Me menjadi nada yang menghiasi berikutnya.

Kepergian Arina ke Negeri Paman Sam tentu akan dirindukan oleh penggemarnya di tanah air. Sebelum Arina merindukan Indonesia, Mocca membawakan lagu wajib nasional, Tanah Air. Semoga perjalanannya indah seperti lagu How Wonderful Life Would Be.

Menyongsong masa depan dengan lagu Tomorrow terasa begitu optimis. Semua pendukung acara naik ke panggung menutup Jumat malam (15/7). Semua bergerak untuk era mendatang. Di saat personil Mocca menutup diari perjalanan mereka bersama. Menjalani hidup masing-masing dalam kesibukan harian tanpa nama Mocca. Arina mengarungi bahtera cintanya di negara asing. Begitulah, Life Keeps on Turning. [teks: Karlina Octaviany/foto: Firman Rinaldy]

2 Comments

Leave a Reply to TTD92 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.