Blog

Nostalgia Studio Band dalam Karir Mocca

Berbagai perjalan sudah Mocca lewati. Jejak-jejak kaki di persinggahan pintu studio demi studio telah mereka tapaki. Lalu… mereka berkali-kali menyebutkan nama Aru Studio, bercerita tentang  pertemuan pertama dengan pencetus nama Swinging Friends sampai mendapatkan arti kenyamanan hingga sekarang.

Mocca Terjebak Kenangan Studio Band
Mocca Terjebak Kenangan Studio Band

Dalam sebuah ruangan di hotel tempat singgah sebelum beraksi di atas panggung Lookfest malam itu, kami berbincang hangat. Sampai suara tayangan film animasi di tv dekat situ saja tak terdengar. Kami terlalu asik mengingat-ingat kembali soal studio band bersejarah bagi Mocca. Hingga sekarang. Terlihat jemari Riko tak bisa diam, terus saja memainkan gitar saktinya, Sabtu (20/8).

Anggota Mocca yang baru tiba hanya Riko dan ditemani dua tim Mocca. Sisanya ada yang langsung menuju venue acara. Saat langsung ditanyai tentang studio band yang termemori dalam Mocca, Riko langsung menjawab, “Kebanyakan sih di Aru”, jawab Riko cepat. Aru Studio saat ini berada di jalan LLRE Martadinata 189 Bandung. Semenjak demo lima lagu pertama Mocca tahun 2001 memang sudah melibatkan Aru Studio beserta orang-orang di dalamnya. Nama Ari Rinaldi – produser Tulus – seseorang yang ikut berada dalam perjalanan sukses Mocca. “Dulu mas Ari yang operatorin, sekarang karena dia sama Tulus, jadi semenjak album Untuk Rena recording kita sama Adit,” ungkap Riko.

Bukan hanya itu, Aru pun menjadi saksi bisu terpilihnya nama swinging friends untuk fanbase Mocca saat dilaksanakannya Rehearsal Show Mocca pertama, di tanggal 27 Juli 2007.

Riko pun menyatakan jika Aru bukan lagi sekedar studio band tetapi sudah membentuk menjadi suatu keluarga. Bangunan yang saat ini menjadi minimarket dulunya sempat disewa Mocca untuk dijadikan basecamp. Di basecamp itu mereka selalu bertemu dengan laki-laki bersaudara, Rudi, Ari dan Rino. Rino inilah yang selalu ada di jam-jam Mocca latihan. Album pertama Mocca “My Diary” Rino diajak untuk mengisi bagian string. “Dia kalau Mocca latihan dia enggak nanya chordnya apa tapi ya langsung main aja. Kalau Mocca mentok juga minta bantuan dia (tertawa),” pungkas Riko.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, kami bergegas pergi menuju venue. Diluar sudah ada Arina yang baru saja datang dengan baju biru bercorak banyak bintang. Layaknya kostum film wonder woman. Ditambah aksesoris pengeriting rambut yang lebih dari tiga buah ada di rambut Arina.

Sembari diperjalanan, Arina menyebutkan beberapa studio yang masih tersimpan dalam ingatannya. Yas Studio yang berada di jalan Jakarta, itu adalah tempat pertama kali Mocca membuat demo yang masih memakai pita. “Kalau gagal harus nambal dan itu harus halus kan.” ujar Arina sambil mengingat yang lain.

Kemudian Studio Dialog di jalan Buah Batu merupakan tempat rekaman album pertama mereka, My Diary. Selama tiga minggu berturut-turut Arina harus merelakan bulak-balik dari rumahnya di jalan Jakarta – Buah Batu.

Ada cerita lucu dalam pertanda proses karir mereka. Tahun 2000-an, Mocca masih memperkaya latihan saja belum pernah untuk manggung sama sekali. Pastinya pun mereka tidak punya uang. Rutinitas saat itu mereka menjadwalkan berkumpul di rumah Toma. Ada salah satu ruangan yang dibuat seakan studio band. Semua jendela dipasang kayu dan dipaku oleh mereka, untuk meredam suara niatannya. Alhasil, semuanya gagal total. “Usahanya gagal. Tetep yang ada malah panas, ribut dan saya enggak bisa denger suara saya sendiri,” cerita Arina disertai tawa yang lepas.

Tetapi, tetap saja walaupun sudah menyebutkan banyak studio, Aru ada dalam benak terdalam Arina hingga kini. “Aru itu paling nyaman, kalau yang lebih enak pasti ada. Udah tau setelan Mocca seperti apa, udah tau orang-orangnya dan udah tau ruangannya kayak apa. Rasanya tuh kayak pulang kerumah,” jawab Arina detik-detik sampai di venue.

—-

[Cynthia Novianti]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.